AHMADIYAH; PERKEMBANGAN DI JERMAN

masjid ahmadiyah
Jerman memiliki empat juta pengikut agama islam. David Wroe melaporkan, sekelompok kecil Muslim sedang membuat usaha besar untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat Jerman.

Saat Komunitas Muslim Ahmadiyah membangun sebuah masjid di Berlin timur tahun lalu – tempat pertama berkembangnya komunisme di  Jerman Timur- mereka tidak berfikir prosesnya akan mudah, namun mereka juga tidak menyangka akan mendapat ancaman pembunuhan.

“Saya sedang berdiri di sebuah jalan, kata Abdul Basit Thariq, sang Imam masjid.  Seorang laki-laki berdiri disana dan menatap saya dengan tajam dan berkata, “Aku akan bunuh kamu.”

Seorang laki-laki lainnya yang tinggal diseberang jalan, mengibaskan bendera Jerman di balkonnya, dan menurut Imam tadi, laki-laki itu berteriak, “Negeri ini milik kami, bukan milik kalian”

“Mereka ketakutan, dan mencoba segala cara untuk menghentikan pembangunan mesjid”, jelas Tariq mengenai agitator di distrik Pankow, sebelah timur Berlin, yang mencoba untuk memprovokasi perlawanan terhadap pembangunan rumah ibadah.

Mereka menyebarkan ketakutan, permusuhan . Mereka mengatakan Kaum Muslim akan menggelar sajadah mereka di jalan ini. Harga-harga properti akan jatuh, sekolah-sekolah akan dipenuhi oleh anak-anak Islam. Kami tidak siap menyaksikan wanita-wanita berjilbab hitam berada di jalan-jalan.”

Mereka yang ketakutan itu sebaiknya menghindari Mannheim akhir minggu ini, karena Ahmadiyah - suatu organisasi yang meskipun kecil tetapi merupakan kelompok muslim yang teguh-  sedang mengadakan acara yang merupakan pertemuan muslim paling besar yang pernah ada di Jerman. Lebih dari 35.000 orang Ahmadiyah akan berkumpul di Mannheim, negara bagian barat daya Baden – W├╝rttemberg – sungguh kehadiran dalam jumlah yang mencengangkan di kota yang berpenduduk 330.000 orang.

Jamaah Islam Ahmadiyah berbeda dengan yang lainnya.  Di dunia dimana komunitas umat muslim dituduh  membentuk kelompok-kelompok sendiri yang terpisah, Ahmadiyah justru mengarah kepada golongan utama dan membuka diri terhadap segala pengujian terhadap ajarannya.

Mereka juga memiliki ambisi yang sangat besar. Meski mereka kecil dengan beranggotakan hanya 30.000 umat dari 4 juta umat muslim di Jerman, mereka bertujuan membangun 100 mesjid di seluruh Negara Jerman  dalam dua dekade ke depan. Akan ada banyak mesjid seperti yang telah berdiri di Pankow.

Kami ingin mengatakan “Kami disini. Inilah kami. Kami tidak akan pergi, maka, mari kita saling terbuka.” jelas Ijaz Ahmad, juru bicara nasional komunitas ini.

Untuk pertemuan Manheim ini mereka telah mengundang semua media penting  di Jerman – dan beberapa diantaranya, menerima undangan tersebut- dan memastikan kedatangan mereka atau mendapatkan salinan dari sambutan tertulis dari anggota Parlemen dari partai-partai politik utama di negara tersebut, termasuk juga walikota Mannheim, Stuttgart, Heidelberg, dan Riedstadt.

“Pelajaran yang mereka dapatkan adalah bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi masyarakat yang menentang mereka karena ketidaktahuannya adalah dengan cara keterbukaan/transparansi”. kata anggota parlemen dari Greens, Omid Nouripour. “Itulah cara yang sedang mereka tempuh saat ini. Ini adalah cara yang bagus- satu-satunya cara yang bisa berhasil.

Terbiasa menjadi minoritas

Orang-orang Ahmadi terbiasa menjadi minoritas, diusir dari negara asalnya Pakistan, dan dianggap golongan yang menyimpang dari mayoritas muslim umumnya di Jerman.  Nouripor, yang berasal dari  Iran mengatakan Mayoritas muslim telah membuat kesalahan besar dengan tidak mengundang orang-orang Ahmadiyah dalam pertemuan-pertemuan konferensi Islam di Jerman. 

Agen intelijen Jerman , Verfassungsschutz menyatakan orang-orang Ahmadi adalah pencinta damai. Mereka dengan keras mengutuk semua kekerasan dan mengartikan jihad sebagai perjuangan internal seseorang untuk membebaskan dirinya dari keburukan dan lebih beriman kepada Tuhan.

Walaupun tidak menyebut diri mereka sebagai reformis, mereka dianggap konservatif terutama dari cara berpakaian wanita yang menggunakan jilbab, hal ini telah menimbulkan kemarahan orang-orang Jerman 

Dalam percakapan dengan penduduk setempat,Iimam Tariq menentang budaya kebebasan sex di Eropa dan kebiasaan minum minuman keras. Dia mengatakan juga bahwa wanita seharusnya tidak pergi keluar seorang diri.  Demikian menurut Ahmad, seorang juru bicara mencoba mengoreksi.

”Bukan berarti wanita tidak boleh pergi keluar sendiri,’ kata ahmad. “Tapi lebih baik bila tidak bepergian sendiri. Jika seorang wanita ingin menggunakan jilbab, itu adalah pilihannya. Tak ada seorangpun yang bisa memaksanya.”

Pada tahun 2007, opini public terhadap Ahmadiya tercoreng saat majalah kaum mudanya menyatakan bahwa -memakan babi akan membuatmu menjadi gay- hal tersebut langsung dibantah oleh Pemimpin Komunitas tersebut.

Sejak mesjid Pankow dibuka pada tahun lalu, Ahmadiyah telah mencoba menjembatani komunitas disana dengan mengadakan open house dan mempersilahkan masyarakat untuk mengemukakan kritiknya, hal ini telah mengubah opini public menjadi lebih baik, kata Ahmad dan Tariq.

Mesjid ini dipenuhi dengn orang-orang Jerman,” kata Tariq. Kami mengatakan, “kami tidak akan menyembunyikan apa-apa dari anda. Dan jika anda tidak berkenan datang kepada kami, biarkan kami yang datang kepada anda.” Kami bukan orang jahat, kami orang-orang beradab.

Bahkan Joachim Swietlik, pemipin oposisi setempat menghadiri open house ini dan tinggal selama 5 jam. Ahmadiyah merasa sedikitnya mereka sudah mampu meyakinkannya.  Kelompok Pankow-Heinersdorf  Swietlik, tidak merespon terhadap permintaan interview yang dikirim melalui email, namun beberapa posting di website mereka yang menghina adanya tempat bermain anak-anak di area mesjid, sepertinya kaum Ahmadi masih memiliki tugas yang seyogyanya dilakukan untuk mereka. (Iin/yanti/David Wroe (

-->news@thelocal.de )
http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&task=view&id=253&Itemid=88

http://www.thelocal.de/society/20090814-21251.html


1 Komentar untuk "AHMADIYAH; PERKEMBANGAN DI JERMAN"

Assalamualaikum. Mubarak, blognya sangat bagus. Saya baru yang kedua ini berkunjung.
Fadhal Husban-Bogor

Komentar anda tidak dimoderasi dan verifikasi, Terimakasih atas komentarnya yg sangat berharga dan bijak, semoga bermanfaat

Back To Top